
Tahun 2004 adalah tahun pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Jember. Sebuah kota kecil di Jawa Timur. Alasan pekerjaanlah yang membawa saya ke kota asal musisi Anang Hermansyah ini. Sebagai anak ibu kota, yang lahir dan besar di kota besar yang ramai dan sibuk, saya merasakan kejenuhan yang begitu cepat dengan kota ini. Ritme hidup yang santai dan masyarakatnya yang begitu komunal sehingga tidak lagi menyisakan ruang privasi adalah dua hal yang sangat kental terasa sekaligus yang membedakan Jember dengan Jakarta. Kejenuhan itu membawa saya pada upaya-upaya memecah kebekuan kreatifitas, sempat sejenak menjajal siaran sebagai announcer di salah satu radio swasta terbaik, namun tak bertahan lama akibat satu dan lain hal. Sempat pula menjajal menjadi guru les bahasa Inggris membuat saya kenal beberapa gelintir anak muda Jember yang kreatif dan memiliki mimpi-mimpi yang sama, sambil tak jarang berkhayal, andaikan Jember bisa menjadi lebih maju, dan masyarakatnya bisa lebih “membuka diri” .
Tahun demi tahun berganti, tak terasa saya pun sudah delapan tahun meninggalkan kota suwar-suwir ini. Masih dikarenakan alasan pekerjaan, saya berpindah dari satu kota ke kota lain. Fisik saya memang sudah tidak lagi berada di Jember, tetapi hati saya tak pernah jauh, tak pernah benar- benar meninggalkan kota ini, sesungguhnya saya tetap “mengunduh“ Jember dengan sangat baik dalam relung sanubari. Saya masih ingat sekali rutinitas di hari minggu, berolahraga pagi di alun-alun kota bersama beberapa sahabat, kemudian singgah di sebuah pasar untuk menikmati sebungkus nasi jagung. Saya pun masih ingat sekali betapa, rumah makan fast food berlogo orang tua berjanggut putih itu sepertinya hanyalah satu satunya tempat makan “modern” , itupun masih berbentuk mobil van. Sepertinya mereka belum terlalu yakin dengan daya beli masyarakat Jember saat itu.
Continue Reading →