Sahabat.. Taukah anda kalau Pusat Penelitian Kopi Dan Kakao yang tahun lalu genap 100 tahun dan memecahkan rekor MURI pembuatan Cangkir Terbesar di Indonesia itu ada di Jember..?? Taukah anda kalau dari tanah Jember ini sudah di ekspor hasil bumi berupa kopi dan kakao ke banyak negara di dunia..?? Taukan juga kalau di Jember pula alat-alat untuk membuat kopi dan Kakao itu di rakit ..?? Keakean takon yo Rek..?!
Tapiiii… itu semua memang benar adanya kok. Mendengar 100 tahun sudah pusat penelitian ini berdiri saja saya sudah sangat terkagum-kagum. Apalagi bisa melihat langsung bagaimana perkebunan penghasil kakao dan kopi ini dari dekat. Suerr..!!
(lagi…)
Ternyata Jember itu kaya akan berbagai jenis kuliner yang tidak kalah dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Tidak hanya di daerah perkotaan, tetapi juga di daerah pedesaan yang jauh dari keramaian kita bisa mendapatkan kuliner yang mantab. Salah satunya seperti warung makan yang sempat saya singgahi di hari Senin kemarin, tanggal 26 Desember 2011. Warung yang menyediakan menu andalan ayam pedas dan terletak di Dusun Menampu, Kecamatan Gumukmas ini sebenarnya sudah lama saya dengar. Ternyata dari sekian banyak referensi yang mampir di telinga saya, hampir semuanya mengatakan jika ayam pedas di warung ini maknyus, meminjam istilah Pak Bondan, hehehe… “AYAM PEDAS PULOREJO BAPAK H. HASAN BASRI” namanya. FYI, warung ini merupakan cikal bakal ayam pedas di daerah Gumukmas dan telah berdiri sejak tahun 1980. Lho, bukannya ayam pedas yang fenomenal disana adalah “Ayam Pedas Hj. Rupini”?! Memang, namun semenjak Hj. Rupini meninggal, sang suami membuka warung dengan namanya sendiri, sedangkan trademark “Hj. Rupini” dipakai oleh anak mereka yang membuka warung di daerah Dusun Menampu juga tetapi berada di pinggir jalan utama, tidak seperti sang Bapak yang berada di daerah perkampungan.
Penasaran?! Langsung saja meluncur ke TKP. Jika kamu kesulitan menemukan warung makan ini, langsung kontak saya dan saya akan menanyakannya ke teman yang jago dalam urusan hafal-menghafal letak suatu lokasi. Karena saya sangat bermasalah dengan menghafal lokasi, yang ada malah bikin nyasar, hahaha… Yang saya ingat hanyalah waktu tempuh Gumukmas dari Jember kota sekitar satu jam berkendara motor. Perlu diingat, warung ini beroperasi mulai jam 6 pagi sampai sekitar jam 6 sore.
(lagi…)
Urusan kata selesai. Sekarang saya mau bagi-bagi cerita soal saya yang suka sapnyapsap, kumlaku atau jalan-jalan bareng setiap hari sabtu dan minggu tiba. Bukan hal baru dan wah memang. Tapi jadi sesuatu yang seru kalo acara ngukur jalan itu bikin kita tersesat. Kok bisa..?? ya bisa lah.. buktinya saya
Buat saya dan sahabat JB yang suka jalan, menjelajah Jember itu nikmat sekali. Meski tau Jember itu luas tapi nggak nyangka sebesar itu. Beberapa desa dan kecamatan sudah pernah saya sambangi. Nggak jarang daya tarik dan potensi wisata yang ada jadi alasan saya segambreng datang. Tapi meski begitu nggak sedikit pengalaman kumlaku saya yang nggak punya tujuan sama sekali. Tiba-tiba berangkat aja, ngikutin sepeda motor yang saya tumpangi mau kemana. Ke kiri aioo ke kanan juga iyo wes
Moro-moro wes tutuk endhi gak eruh wes agagag…
(lagi…)
Pecel… Nama makanan yang satu ini emang Indonesia bangget..!! Dimana-mana rasanya tidak sulit untuk menemukan aneka sayuran rebus dengan siraman bumbu kacang diatasnya. Rasanya yang khas dan Indonesia bangget itu bikin pecel identik dengan Indonesia. Hampir semua suka makan pecel, sebagai pelengkap nasi atau langsung di gado sama-sama enak. Penyajianya yang mudah dan rasa yang sesuatu bikin siapapun nggak bakalan nolak bersantap dengan makanan yang satu ini. Mau sarapan kek, makan siang kek, pun makan malam ayo saja. Meski kadang saya sendiri suka ngerasa “aneh” makan pecel malem-malem, tapi ternyata banyak juga kok warung yang nawarin pecel sebagai menu utama mereka di malam hari. Trus hubunganya sama Jember..??? Yuuuuk mari dilanjut …
Di kota tercinta ini yang jualan pecel banyak. Mulai dari warung pinggir jalan yang kaki lima sampai resto, bahkan hotel di Jember juga nawarin pecel sebagai menu sarapan tamu yang menginap. Mau rasa yang bagaimana juga ada.. Kamsudnya kita mau makan pecel yang “mewah” atau yang “sederhana” agag.. Mewah disini adalah pecel yang lengkap dengan pernak pernik tambahan lauk dan teman-temanya itu yang juga mewah hehe… biasanya tambahan gudeng, opor ayam, daging empal dan bumbu kacang yang kental adalah ciri pecel mewah. Nah kalau bumbu kacang yang disiram ke atas sayuran rebus encer saya bisa pastikan kalau itu pecel sederhana agag… apalagi teman nya juga sederhana.. paling banter telur ceplok dan kerupuk
Tapiiiiiii…. Diantara yang sederhana itu ada juga yang special loh … Salah satunya Pecel Pincuk Wonk Jenewa..!
(lagi…)
Kali ini saya datang dengan cerita dari Jember Fair, acara yang digadang-gadang untuk menyambut ulang tahun Jember Januari mendatang. Ya Jember Banget akhirnya berani nongol buat unjuk gigi dan unjuk yang lain-lain di pameran yang rencananya menampilkan produk unggulan, investasi, dan sektor pariwisata.
Gedung Serbaguna Kaliwates seperti biasa memang selalu dijadikan venue pabila acara serupa diadakan. Mulai 7 Desember sampai 18 Desember mendatang bengkel JB di Jl.anggrek sementara pindah ke gedung serbanguna. Buat Sahabat JB yang ke Jl.Anggrek trus liat bengkel JB tutup bisa langsung meluncur ke Gedung Serbaguna ya
Menjadi peserta pameran yang baru pertama kali ikut tentu saja saya merasa luar biasa senangnya. Antara deg-degan, was-was, senang, dan sedih. Rasa itu terasa tipis sekali perbedaanya, campur aduk gak ron-karon pokoknya wes
Deg-degan karena baru kali ini tampil di depan publik #cieeeeeee…. was-was karena bakal langsung melihat dan mendengar respon masyarakat Jember yang dateng, senang karena bisa ngenalin dan nunjukin kalo Jember sekarang juga punya koas seperti kota lain, trus sedih karena masih jauh dari apa yang saya bayangkan.
(lagi…)



